Kiper Senior Persib Bandung Berbagai Pengalaman Menjadi Murid Luizinho Passos di Tim

Penjaga gawang senior Persib Bandung, I Made Wirawan, berbagai pengalaman usai menjadi murid Luizinho Passos.

Nahkoda kiper asal Brasil ini menjadi sosok arsitek penjaga gawang asing kedua bagi kiper asal Gianyar itu. Sang penjaga gawang pula merasai banyak faktor anyar dalam sistem pelatihan yang diberi sang juru racik.

Menurut kiper berusia 39 tahun itu, selama berkarier sepak bola, Passos menjadi arsitek yang paling keras di lapangan. Selain fisik, mentalnya pun dikuras ketika berlatih.

"Coach Passos yang kedua. Pertama adalah waktu timnas dan kalau klub pertama sama pelatih kiper asing. Banyak hal baru, terutama dalam metode melatih," kata kiper bernomor punggung 78 ini di situs resmi Persib.

Tetapi, penjaga gawang berpostur tinggi 180 ini justru memperoleh manfaat besar dari metode itu. Lantaran, secara fisik ia merasa menaik, meskipun umurnya terus bertambah.

"Dulu kalau program lari itu terasa sangat berat. Tapi sekarang, lebih ringan. Itu satu hal positif, banyak hal lainnya," ungkapnya.

Akhir tahun ini, kiper bernomor punggung 78 di Persib Bandung ini bakal berumur 40 tahun. Ia pun belum menentukan untuk pensiun di Maung Bandung.

Luizinho Passos amat kerasan sejak berkarir di Indonesia sebagai nahkoda penjaga gawang sejak tahun 2017. Borneo FC menjadi tim perdana sang pelatih kiper di Tanah Air. Via polesannya, Muhammad Ridho dan Nadeo Argawinata makin matang.

Kesuksesan Passos dalam memoles dua penjaga gawang itu membikin tim asal Kota Kembang itu tertarik menggaetnya. Tahun 2020, Passos pun resmi menjadi bagian dari Pangeran Biru.

Sayangnya, wabah virus Corona mewabah sehingga Passos baru tiga laga menemani klub kebanggaan Bobotoh ini dan ajang tertunda sejak Maret 2020 sampai saat ini.

"Terima kasih untuk semua pihak yang sudah mendukung saya. Hampir 4 tahun di sini dan saya sangat cinta Indonesia, khususnya Bandung," ungkap Passos saat dihubungi awak media Rabu (06/01/2021).

Passos mengaku selalu termotivasi untuk menciptakan penjaga gawang yang terbaik di tiap tim yang mempercayainya, baik ketika di Brasil maupun di Indonesia.

"Saya selalu termotivasi membuat kiper menjadi yang terbaik di negaranya. Pertama saya datang ke sini, ada M. Ridho (saat di Borneo) dan Nadeo. Sebelumnya, orang-orang belum tahu siapa mereka. Saya lihat ada motivasi, disiplin dan kemampuan hebat dari mereka," ungkap Passos.