Eduardo Almeida Memberikan Respons Sinis Ketika Ditanya Masalah Rotasi Punggawa

Arema FC sukses meraih kemenangan perdana di Kompetisi BRI Liga 1 2021/2022. Klub asal Malang ini baru mampu memetiknya di jornada ke lima ketika meladeni Persipura Jayapura, di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Rabu (29/09/2021).

Singo Edan menang tipis 1-0 berkat brace Carlos Fortes pada awal babak perdama. Diego Michiels dan rekan-rekan mampu mempertahankan keunggulan sampai duel berkesudahan.

Kesenangan tentu dirasakan punggawa dan arsitek Singo Edan. Tetapi ketika sesi konferensi pers, juru latih Arema FC, Eduardo Almeida masih pernah memberikan respons sinis.

Ia memperoleh pertanyaan kemungkinan merotasi pilar saat Singo Edan memperoleh jadwal padat. Yaitu jornada empat hingga enam. Klub kebanggaan Aremania itu melakoni tiga duel dalam 9 hari.

"Tadi (lawan Persipura) ada lima pergantian pemain yang dilakukan. Saya heran, nanti saat kalah, kenapa melakukan rotasi. Tapi giliran menang, malah ditanya kenapa tidak rotasi. Nanti pasti akan ada waktunya (untuk rotasi)," jelas pelatih asal Portugal ini.

Ketika menghadapi Persipura Jayapura, Singo Edan menurunkan M. Rafli, Feby Eka, Jayus Hariono, Ridwan Tawainella dan Diego Michiels. Mereka dimasukkan untuk menyegarkan skuatnya.

Tetapi pergantian yang diadakan pelatih asal Portugal itu tidak seluruhnya sukses. M. Rafli misalnya, ketajamannya tidak sangat tampak. Justru saat Dedik Setiawan masih di lapangan, banyak kesempatan yang diperoleh.

Apapun itu, kemenangan pertama ini harus dirayakan dengan suka cita. Singo Edan pun sukses memetik enam angka dari lima duel yang sudah dilakoni.

Sesungguhnya ini bukan kali perdana arsitek berusia 43 tahun ini sinis merespons pertanyaan. Sama seperti ketika dia disodori pertanyaan masalah kemungkinan pilar muda dimainkan.

Sejak awal menukangi Singo Edan, eks juru racik Semen Padang itu mengaku tidak senang memberi respons untuk pertanyaan taktik yang mendalam mengenai skuatnya lantaran itu dianggap sebagai rahasia dapur skuat juru taktik. Dia pula tidak mau berkomentar masalah individu atau evaluasi anak didiknya.

Sepertinya bukan cuma di Singo Edan dia memiliki kebiasaan seperti itu. Tetapi ketika menukangi Semen Padang (2019) atau klub lainnya mantan nahkoda Ubon United itu mempraktikkan faktor yang sama.

Bisa jadi itu diadakan untuk menjaga keadaan klub. Dia memandang semua yang dipetik klubnya berkat kerjasama antar pilar. Bukan lantaran satu atau dua punggawa saja.